Icon Kota Adalah Simbol Eksistensi Budaya, Kenapa di Lampung Timur Batal Dibangun

Lampung Timur, Telisiknews.id – Ketua AWPI DPC Lampung Timur Herizal, dalam menyampaikan beberapa pemikiran dan gagasannya atau merupakan sebuah opininya semata , terkait dibatalkan sebuah kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau di tengah kota berjuluk Bumei Tuah Bepadan, yang rencananya akan menjadi salah satu icon kota kabupaten Lampung Timur, dari beberapa program pemerintah kabupaten Lampung Timur yang pendanaanya bersumber pada APBD tahun anggaran 2022 di Dinas PUPR Lampung Timur.

“Karena menurut dia, banyaknya pihak yang sedang menyoroti kegiatan tersebut, selain sebagai pemerhati masalah pembangunan daerah dari sebuah kajian, analitis pendekatan arsitektural dan budaya yang kini tak mampu di wujudkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur, karena diduga bukan merupakan suatu program prioritas pemerintah Lampung Timur, atau ketersediaan SDM yang kurang mumpuni untuk mengelola sehingga dari perencanaan, persiapan sampai pada saat eksekusi sebuah kebijakan pada tahap pelaksanaan tak mampu di terjemahkan sesuai dengan regulasi Yang ada,”terang Herizal Minggu (6/11/22)

Bacaan Lainnya

Di lain tempat Herizal menyampaikan dari sebuah kutipan berita yang di publikasikan oleh beberapa media, menurut keterangan sekretaris Dinas PUPR Lampung Timur beberapa hari yang lalu, yang di konfirmasi oleh beberapa media, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kabupaten Lampung Timur, Indra Alfandi Ramli mengatakan, mengatakan bahwa terkait pembangunan ruang terbuka publik/Icon Kota Sukadana di Desa Mataram Kecamatan Sukadana, yang tepatnya berada di perempatan lampu merah tersebut, memang direncanakan akan dibangun pada tahun ini, namun karena masih terkendala dengan pembebasan lahannya maka mau tidak mau pelaksanaan pembangunannya harus dibatalkan.

Selain hal tersebut sekretaris dinas PUPR Lampung Timur menegaskan bahwa untuk pembangunannya dibatalkan karena pembebasan lahan untuk tapak bangunannya belum selesai dilakukan oleh Pertanahan.

“Memang lelang untuk pekerjaan Pembangunan ruang terbuka publik/Icon Kota Sukadana di Desa Mataram Kecamatan Sukadana tersebut sudah sempat terlaksana dan sudah ada pemenang tendernya, namun karena terkendala dengan pembebasan lahan maka mau tidak mau pekerjaan pembangunan Icon tersebut harus dibatalkan, tetapi yang tau secara pasti seperti apa pembatalan pekerjaan itu dengan pihak pemenang tendernya adalah PPK nya,” ungkapnya, Rabu (02/11/2022).

Sementara Menurut Herizal,dari Pemahaman filosofi pendekatan arsitektural sebuah Icon kota, Icon kota adalah sebuah karya arsitektur (seni menata ruang dan menemukan bentuk) dan karya arsitektur adalah sebuah hasil dari kajian estetika (keindahan) bentuk dan makna (filosofi) manusia dan budaya yang diwakili, jika di lihat dari fungsi bangunannya icon kota dapat di defenisikan sebagai bangunan bentuk yang di bangun menyerupai sesuatu yang di maksudkan untuk menyampaikan pesan atau mencerminkan identitas atau karakter masyarakat,identitas budaya,tatanan sosial, identitas keagamaan,budaya masa lalu -Sejarah,simbol kekuasaan, kejayaan, kejayaan ekonomi, kejayaan teknologi, atau pengharapan ke masa yang akan datang.

Selanjutnya Herizal menyampaikan hal ini berdasarkan beberapa hasil kajian dari beberapa orang hebat di Indonesia atau di daerah-daerah, yang konsisten dengan memperhatikan tentang budaya, kearifan lokal dan filosofi yang di sampaikan melalui sebuah catatan dan dokumen untuk sebuah bangunan icon.

Bangunan Icon atau simbol yang dengan sengaja di buat untuk menghiasi kota, atau menghiasi kawasan tertentu adalah bangunan yang menyampaikan pesan moral pesan moral yang dimaksudkan dapat berupa Pesan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Pesan dari satu kelompok masyarakat kepada masyarakat umum lainnya
Atau pesan untuk menunjukkan integritas, kekuasaan dan kejayaan
Pesan yang mempertegas eksistensi dan menunjukkan pada khalayak umum atau pula dimaksudkan sebagai media untuk menunjukkan sebuah identitas masyaraka, baik identitas ideologi identitas manusia dan identitas ideologi identitas manusia dan alam secara umum Icon, icon kota tersebut bisa berbentuk bangunan keagamaan seperti masjid di aceh, wihara, candi dan sebagainya.

“Dan bangunan-bangunan berbentuk lainnya yang diharapkan menjadi media menyampaikan pesan pesan moral kepada masyarakat secara umum,” ungkap Herizal

Icon kota dalam falsafah arsitektur di anggap sebagai media komunikasi dan informasi kehadirannya mampu mewujudkan maksud dan tujuan yang diharapkan, misalnya bangunan sejarah yang diharapkan menyampaikan pesan sejarah masa lalu kepada generasi yang akan datang hingga icon kota di bangun dengan penuh ketelitian hampir setiap sudut bahkan setiap dimensi dimensi dan bentuknya di harapkan mewakili pesan pesan tertentu.

Icon kota akan manjadi sebuah landmark masyarakat yang dengan sendirinya akan dapat membawa pengaruh pada masyarakat baik pada konsep pemikiran,atau sampai pada style gaya hidup yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru.

Baik manfaat baik atau pula bahkan manfaat negatif,karenanya seorang arsitektur dalam proses perencanaan sebuah icon atau simbol kota senantiasa melibatkan banyak pihak atau melibatkan banyak referensi keilmuan utamanya dari kalangan budayawan dan sejarawan, karna karya arsitektur yang akan direalisasikan adalah bukan sekedar karya estetika belaka namun sebuah karya yang mewakili budaya tertentu yang kemudian akan mampu berpengaruh pada sisi yang mungkin tidak diharapkan, setiap icon di bangun dengan konsep filosofi tertentu tergantung muatan pesan yang akan disampaikan.

Hingga hampir setiap detail dan ukuran ukuran konsep dibuat dengan seksama dan bahkan dengan pendekatan pendekatan tertentu, seperti pada konsep arsitektur tradisional Lampung yang memiliki falsafah bangunan yang berbeda dengan wilayah lain.

Pembangunan sebuah bangunan simbol kota atau icon kota mesti mempertimbangkan banyak unsur baik unsur sosial, unsur budaya bahkan unsur dampak budaya baru yang di lahirkan kemudian karena, tidak di pungkiri dengan menampilkan sebuah simbol keterwakilan budaya yang sampaikan akan mengundang banyak interpretasi dari masyarakat dimasa yang akan datang, apalagi jika simbol yang ditampilkan adalah bentuk peralatan perang atau benda benda yang dianggap mewakili tindak kekerasan.

“Dalam arsitektur Lampung dikenal simbol simbol atau ornamen yang zaman dahulu digunakan sebagai identitas atau pula sebagai penghias bangunan sebagai pengharapan,” pungkas Herizal (Rmt).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *