Potret Kepemimpinan Bercirikan Firaun

Ahsan.N
Pemimpin yang bercirikan Firaun di masa sekarang telah hadir terang-terangan, membuat kebijakan otoriter, baik kepada rakyatnya sendiri.

Dampak dari kepemimpinan yang zalim, selalu memilukan dan tidak mencerminkan kekuasaan yang adil dan beradab.

Kita dapat melihat bagaimana Firaun membunuh bayi laki-laki, agar tidak ada yang dapat menggantikan kedudukannya.

Bacaan Lainnya

Menurut Ibnu Khaldun, kezaliman pemimpin dapat mengakibatkan hancurnya pembangunan. Di antaranya menuntut kerja paksa, menguasai harta-harta manusia dengan membeli apa yang mereka miliki dengan harga rendah, tidak adilnya penguasa dalam pengelolaan pajak, dan menuntut rakyat dengan tanpa hak.

Melihat fenomena pemimpin zalim di negeri sendiri. Di antaranya para pejabat tinggi negara melakukan korupsi atau tepatnya mencuri uang rakyat, tapi mereka masih mendapatkan tempat tinggal mewah di dalam sel. Padahal, akibat dari perbuatan mereka tersebut bisa membuat perekonomian menurun.

Selain itu, dampak dari kebijakan pemimpin zalim tersebut adalah terjadinya krisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Sehingga, muncullah sebagian orang yang malas membayar pajak, terjadi perampokan antar warga, dan perebutan kekuasaan.

Salah satu cara yang telah dicontohkan oleh para nabi terdahulu dalam menyikapi pemimpin zalim adalah, berusaha untuk mengingatkan mereka.

Nabi Musa tak lelah mengingatkan Firaun sang pemimpin yang sombong, terkait membuat kebijakan zalim dengan membunuh bayi laki-laki dan membiarkan rakyatnya terpecah belah.

Selain itu, juga dengan cara sabar. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, hendaklah ia bersabar” (HR. Bukhari dan Muslim). Hasan al-Basri pernah mengatakan bahwa: “Kezaliman pemimpin itu adalah azab Allah.

Sedangkan azab Allah tidak bisa dihadapi dengan pedang, akan tetapi kezaliman pemimpin itu ditolak dengan cara kita kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan memperbaiki diri kita.”

Kenapa salah satu caranya dengan memperbaiki diri? Ini ada kaitannya seperti yang telah penulis singgung di atas, bahwa Allah akan memberi pemimpin sesuai dengan keadaan rakyatnya.

Maka, perlulah kita saling mengintropeksi diri agar Allah memberikan pemimpin yang adil, amanah dan berakhlakul karimah. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.