Soal Pemberhentian Aparat Pekon, LHP Cipta Mulya Diam Seribu Basa

Lampung Barat,Telisiknews.id – Ihwal Pemberhentian Ida Wati Arafat seorang Kasi Pemerintahan di Pekon (Desa) Cipta Mulya Kecamatan Kebun Tebu Kabupaten Lampung Barat (Lambar), oleh Peratin Nandang Romadona beberapa waktu lalu yang saat ini menjadi sebuah trending topik, diduga pihak Lembaga Himpunan Pemekonan (LHP) setempat seakan tak ambil pusing.

Sementara, sebagai lembaga yang dibentuk untuk menentukan keputusan di Pekon dalam berbagai hal termasuk pemberhentian dan penerimaan aparat pekon.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, dalam pemberhentian aparat pekon oleh peratin tersebut justru terkesan tidak ada koordinasi dengan pihak LHP sebab, surat tersebut tanpa adanya surat putusan LHP setempat.

Dan hal itu diakui oleh Camat Kebuntebu Erna Wati.

“Sampai saat ini surat pendamping dari LHP tidak kami terima,” kata camat.

Camat juga mengatakan, bahwa pihak pekon telah menyiapkan surat pendamping LHP tetapi tanggal terbitnya tidak sama dengan surat pemberhentian.

“Maka saya tidak pernah mengeluarkan rekomendasi soal surat pemberhentian itu dan dia juga tidak pernah berkonsultasi kepada saya soal itu, seharusnya dalam melakukan itu mengikuti prosedur seperti, SP 1 sampai 3, lalu hasil musyawarah dengan LHP dan semua dilampirkan dalam surat pemberhentian itu,” kata Camat.

Selain itu, surat pemberhentian itu juga terkesan tidak memilik nomor, prihal dan tembusan sehingga terkesan tidak sah secara admistrasi.

Saat dikonfirmasi Peratin Nandang mengatakan, semua karena hak preoratif. “Ketika sudah tidak nyaman mukinkan bisa maksimal pekerjaan,” ucapnya.

“Dia pernah kami minta untuk mundur tetapi tidak mau dan ini yang terjadi,” kata Nandang

Persoalanya, bukan soal Preogratif tetapi, soal prosedur dan aturan yang harus diikuti dalam memberhentikan aparat pekon agar surat menyurat sah secara admistrasi.

Pertanyaanya, dengan adanya tindakan semacam itu mangapa justru LHP diam seribu basa.

Selain itu, Ida Wati Arafat mengatakan, hal yang wajar jika perangkat dan LHP banyak diam dengan kinerja peratin, meskipun hal itu jelas menyalahi.

Sebab kata dia, nyaris 50 persen perangkat pekon dan LHP merupakan famili dari Peratin tersebut.

” Wajar kalau aparat banyak diem dengan kinerja peratin yang salah karena hampir separo aparat pekon dan LHP merupakan keluarganya,” pungkas Ida.

Sementara salah seorang anggota LHP yang enggan dipublikasikan namanya mengatakan, dirinya merasa bingung, sebab disisi lain Ida adalah keponakan, dan di sisi lain ini Peratin.

“Seperti memakan buah simalakama saya bingung yang satu keponakan dan yang satu Peratin,” ujarnya.

Pertanyaanya, mengapa harus memihak kepada yang terkesan salah. (San)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.